Sabtu, 17 November 2012

KLT (Kromatografi Lapis Tipis)

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen komponennya. Seluruh bentuk kromatografi bekerja berdasarkan prinsip ini. Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat.
Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda
Proses kromatografi juga digunakan dalam metode pemisahan komponen gula dari komponen non gula dan abu dalam tetes menjadi fraksi-fraksi terpisah yang diakibatkan oleh perbedaan adsorpsi, difusi dan eksklusi komponen gula dan non gula tersebut terhadap adsorbent dan eluent yang digunakan (Hongisto dan Heikkila, 1977; Kantasubrata, 1993; Schneider, 1987).
FASE DIAM
Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Jel silika (atau alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendar flour dalam sinar ultra violet.Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai.
Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus -OH. Apa yang kita sebutkan tentang jel silika kemudian digunakan serupa untuk alumina.
FASE GERAK
Dalam kromatografi, eluent adalah fasa gerak yang berperan penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fasa diam (adsorbent). Interaksi antara adsorbent dengan eluent sangat menentukan terjadinya pemisahan komponen. Oleh sebab itu pemisahan komponen gula dalam tetes secara kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluent dan jumlah umpan. Eluent dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau sebuah lapis tipis silika. Penggolongan ini dikenal sebagai deret eluotropik pelarut. Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir pelarut yang relatif tak polar dari ikatannya dengan alumina (jel silika). (Kantasubrata, 1993).
Kecepatan gerak senyawa-senyawa ke atas pada lempengan itu tergantung pada: Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut. Hal ini bergantung pada bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa dengan pelarut. Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya jel silika. Hal ini tergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan jel silika. Anggaplah bercak awal pada alumina mengandung dua senyawa, yang satu dapat membentuk ikatan hidrogen, dan yang lainnya hanya dapat mengambil tiap-tiap bagian interaksi van der Waals yang lemah.
Senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan melekat pada jel silika lebih kuat dibanding senyawa lainnya. Kita mengatakan bahwa senyawa ini terjerap lebih kuat dari senyawa yang lainnya. Penjerapan merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu substansi pada permukaan. Penjerapan bersifat tidak permanen, terdapat pergerakan yang tetap dari molekul antara yang terjerap pada permukaan jel silika dan yang kembali pada larutan dalam pelarut. Dengan jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada lempengan selama waktu terlarut dalam pelarut. Ketika senyawa dijerap pada jel silika-untuk sementara waktu proses penjerapan berhenti-dimana pelarut bergerak tanpa senyawa. Itu berarti bahwa semakin kuat senyawa dijerap, semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas lempengan.
Dalam contoh yang sudah kita bahas, senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan menjerap lebih kuat daripada yang tergantung hanya pada interaksi van der Waals, dan karenanya bergerak lebih jauh pada lempengan. Bagaimana jika komponen-komponen dalam campuran dapat membentuk ikatan-ikatan hidrogen?
Terdapat perbedaan bahwa ikatan hidrogen pada tingkatan yang sama dan dapat larut dalam pelarut pada tingkatan yang sama pula. Ini tidak hanya merupakan atraksi antara senyawa dengan jel silika. Atraksi antara senyawa dan pelarut juga merupakan hal yang penting-hal ini akan mempengaruhi bagaimana mudahnya senyawa ditarik pada larutan keluar dari permukaan silika. Bagaimanapun, hal ini memungkinkan senyawa-senyawa tidak terpisahkan dengan baik ketika anda membuat kromatogram. Dalam kasus itu, perubahan pelarut dapat membantu dengan baik-termasuk memungkinkan perubahan pH pelarut.

Dikutip  dari berbagai sumber

Rabu, 11 Juli 2012

Jasminum sambac


Klasifikasi :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Lamiales
Famili              : Oleaceae
Genus              : Jasminum
Species            : Jasminum sambac



Nama Lokal :
Jasmine (Inggris), Jasmin (Perancis), Yasmin (Arab), Melati (Indonesia), Melur (Jawa), Malati (Sunda), Malate (Madura), Menuh (Bali).

Deskripsi:
Melati (Jasminum sambac) termasuk tanaman yang mempunyai banyak manfaat. Bunganya berwarna putih mungil dan berbau harum, sering digunakan untuk berbagai kebutuhan. Bunga melati berbentuk terompet, daunnya berbentuk bulat telur (oval, elips) dan berwarna hijau mengkilap. Melati, dapat berbunga sepanjang tahun dan dapat tumbuh subur pada tanah yang gembur dengan ketinggian sekitar 600 atau 800 meter diatas permukaan laut dengan paparan sinar matahari yang cukup. Melati dapat dikembangbiakkan dengan cara stek. Tunas-tunas baru akan tampak setelah berusia sekitar 6 minggu. Pengembangan budidaya melati paling cocok di daerah yang mempunyai suhu siang hari 28-36ºC dan suhu malam hari 24-30ºC

Kandungan Kimia :
Kandungan penyusun minyak melati adalah golongan ester, alkohol, keton, hidrokarbon, fenol, eter, lakton, dan senyawa yang mengandung nitrogen (indol).

Manfaat:                                                                               
Melati dapat digunakan untuk menghentikan ASI yang keluar secara berlebihan, obat sakit mata (mata merah atau belek), bengkak akibat sengatan lebah, demam, sakit kepala, dan sesak nafas. Manfaat lain melati berasal dari senyawa aktifnya yang dapat memberikan ketenangan, Professor Hanns Hatt dari Ruhr University yang memimpin penelitian tersebut mengatakan, efek tersebut sebenarnya dimunculkan oleh GABA. Senyawa tersebut secara alami ada di otak, berfungsi untuk meredakan kegelisakan. Eksperimen tersebut membuktikan, efek GABA akan meningkat ketika menghirup wewangian. Dari ratusan jenis wewangian yang dicoba, wangi melati paling efektif karena mampu meningkatkannya hingga 5 kali lipat atau setara dengan obat penenang. Penelitian ini juga sekaligus memberikan dasar ilmiah bagi aroma terapi. Ketika dihirup, molekul-molekul wewangian membawa sinyal-sinyal tertentu ke bagian otak yang mengatur saraf dan emosi yakni sistem limbik. Terapi yang menggunakan wewangian untuk berbagai tujuan kesehatan ini cukup populer, dan telah digunakan sejak zaman Mesir kuno.
Melati putih (Jasminum sambac) atau jasmine adalah salah satu jenis wewangian yang paling digemari. Bunga ini diyakini memberikan banyak manfaat kesehatan mulai dari relaksasi hingga mengatasi berbagai masalah menstruasi dan menopause. Dibutuhkan sedikitnya 5 juta bunga melati untuk mendapatkan sekitar 1 kg ekstrak murninya. Oleh karena itu, produk-produk parfum umumnya hanya menggunakan senyawa sintetis untuk menghadirkan aroma mirip melati.
Filosofi penggunaan bunga melati :
Melati putih adalah salah satu dari bunga nasional Indonesia (ditetapkan secara resmi melalui Undang-undang tahun 1990), dua bunga nasional lainnya adalah anggrek bulan dan padma raksasa. Makna penting melati putih dalam budaya Indonesia sudah dikenal jauh lebih tua. Telah lama dikenal sebagai bunga suci dalam tradisi Indonesia, melambangkan kesucian, keanggunan yang sederhana, dan ketulusan. Ia juga melambangkan keindahan dalam kesederhanaan dan kerendahan hati, karena meskipun bunga putih ini kecil dan sederhana, tetapi wanginya harum semerbak. Bunga ini merupakan bunga yang paling penting dalam upacara pernikahan bagi berbagai suku bangsa di Indonesia, terutama di Jawa. Kuncup bunga melati yang belum sepenuhnya mekar biasanya dipetik, dikumpulkan dan dirangkai menjadi roncean melati. Pada hari pernikahan, pengantin adat Jawa atau Sunda dihiasi roncean melati yang membentuk jaring pembungkus konde, dan sebagian lainnya membentuk rantai rumit ronsean melati yang menggantung dari kepala pengantin wanita. Melati juga menghiasi keris pengantin pria, rangkaian ini disebut roncen usus-usus yang merujuk kepada bentuknya yang menyerupai usus dan dikaitkan dengan legenda Arya Penangsang. Pengantin Makasar dan Bugis juga menghiasi rambutnya dengan kuncup melati yang disematkan ke rambut menyerupai butiran mutiara. Melati juga sering dipakai sebagai bunga sesajen untuk hyang, arwah dan dewa-dewa, terutama oleh umat Hindu Bali, melati juga sering digunakan sebagai bunga taburan dalam upacara pemakaman atau ziarah makam.
Melati memiliki makna luas dalam tradisi Indonesia yang merupakan bunga kehidupan, keindahan, dan pernikahan, akan tetapi seringkali dikaitkan dengan arwah orang yang telah wafat dan kematian. Dalam lagu dan puisi perjuangan Indonesia, gugurnya bunga melati seringkali dijadikan perlambang gugurnya pahlawan yang berkorban demi bangsa dan negara. Makna ini sangat mirip dengan gugurnya bunga sakura dalam tradisi Jepang yang melambangkan gugurnya para pejuang.
Pada upacara adat ini terdapat unsur bau-bauan yaitu terdapatnya pemakaian  bunga tujuh rupa (bunga melati, bunga mawar merah, bungan mawar putih,  bunga kenanga, bunga kantil,bunga telon, ) dimana bunga yang digunakan dalam grebek sekaten ini memiliki arti pesan. Bunga Melati  melambangkan kesucian dan kemurnian. Secara filosofis bunga melati menganjurkan seseorang jika berucap dan berbicara hendaknya selalu mengandung ketulusan dari hati nurani yang paling dalam. Secara lahir maupun batin, haruslah selalu sama, Filosofi lainnya adalah seserorang yang menjalani segala sesuatu tidak asal bunyi, tidak asal-asalan. Setiap orang melakukan segala kebaikan hendaklah melibatkan hati, tidak fisik semata.
Sanggul rambut pada pengantin wanita diisi dengan irisan daun pandan dan ditutup rajut bunga melati. Perpaduan daun pandan dan bunga melati memancarkan keharuman yang berkesan religius, sehingga pengantin diharapkan dapat membawa nama harum yang berguna bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
detik.com
Juliana, Riris. 2007. Prospek Pengembangan Usahatani Bunga Melati Putih. Skripsi. USU Repository.