kemaren aq ke Shibu CL lagi, terus nyobain Ebi tomyum ramen, aq sih pesennya medium.
Ga pedes pedes banget gitu lah, khas tomyum agak asem asem enak.
Kali ini pas promo buy 1 get 1 free khusus ramen tapi beberapa menu ramen tok.
Mana kali ini ditraktir pulak, tengkyu miss Uy :*
Everyone wants, happiness. No one wants, pain. But you can't have a rainbow without a little rain :*
Selasa, 10 November 2015
Rabu, 04 November 2015
Review: Ramen
aku suka banget nyoba makanan, mumpung inget kita review yuk
1. Miso ramen dari hangiri, ini murah bgt dari ramen yang aq makan, hmmm berapa belas gitu ga sampe 15K pokoknya, aq kurang suka sih mie nya tebel gitu
2. Sakura Ramen dari Sushi story, kuahnya soy sauce gitu jadi ga ada miso sama sekali, ini pake telur dadar, rasanya enak sih aq suka mie nya tipis jadi ga eneg, ada lobaknya juga, recomended
3. Gyu chasu ramen dari Sushi story, ini ramen paling mahal di situ, mungkin karena irisan dagingnya yang banyak, sekitar 25K mungkin sekarang, kuahnya miso tapi ga kentel, enak sih menurutku, recomended
4. Tama chasu ramen dari Sushi story, ini ramen yang peling sering aq makan, yah karena harga terjangkau selain itu juga kuahnya miso, I love miso, toping hampir sama dengan gyu chasu dan sakura ramen sih, top recomended
5. Chicken ramen dari Chicken ramen, not recomended
6. Nagoya ramen, lupa namanya apa hahahaha #LOL, ini ramen ga jelas banget hahahaha (Sorry)
7. Beef sliced spicy ramen dari shibuya, ini ramen paling niat menurutq secara harganya paling mahal dari yang diatas, tempatnya biasa aja sih ala ala resto jepang, enak sih menurutq, ini bisa request pedes apa engga dan kuahnya mantep banget, recomended lah pokoknya
Segitu dulu yah reviewnya ntar kalo uda nyoba tempat lain, Insyaallah review lagi bye bye....
1. Miso ramen dari hangiri, ini murah bgt dari ramen yang aq makan, hmmm berapa belas gitu ga sampe 15K pokoknya, aq kurang suka sih mie nya tebel gitu
2. Sakura Ramen dari Sushi story, kuahnya soy sauce gitu jadi ga ada miso sama sekali, ini pake telur dadar, rasanya enak sih aq suka mie nya tipis jadi ga eneg, ada lobaknya juga, recomended
3. Gyu chasu ramen dari Sushi story, ini ramen paling mahal di situ, mungkin karena irisan dagingnya yang banyak, sekitar 25K mungkin sekarang, kuahnya miso tapi ga kentel, enak sih menurutku, recomended
4. Tama chasu ramen dari Sushi story, ini ramen yang peling sering aq makan, yah karena harga terjangkau selain itu juga kuahnya miso, I love miso, toping hampir sama dengan gyu chasu dan sakura ramen sih, top recomended
5. Chicken ramen dari Chicken ramen, not recomended
6. Nagoya ramen, lupa namanya apa hahahaha #LOL, ini ramen ga jelas banget hahahaha (Sorry)
7. Beef sliced spicy ramen dari shibuya, ini ramen paling niat menurutq secara harganya paling mahal dari yang diatas, tempatnya biasa aja sih ala ala resto jepang, enak sih menurutq, ini bisa request pedes apa engga dan kuahnya mantep banget, recomended lah pokoknya
Segitu dulu yah reviewnya ntar kalo uda nyoba tempat lain, Insyaallah review lagi bye bye....
Review: Steak
I love meat so much, karnivor sejati ceritanya
makanya suka bangetttt makan steak, sejauh ini sih uda nyoba beberapa
check it out
1. Kafe Pelangi : beef steak nya ala ala Indonesia gitu jadi kek berasa lebih ke empal gitu sih, topingnya banyak juga, ada telor ceplok, sama sayuran macem-macem, enak+murah, soal tempat 8, rasa 9, harga 8 deh, 30K
2. WS : chicken steak kalo ga salah ini, pake brown sauce gitu deh, enak+murah, soal tempat 7, rasa 8, harga 9, sekitar 18K
3. Tavern : buat tempat aq kasih 10 lah soalnya kek bar gitu konsepnya, soal rasa 10, soal harga 9.5 deh, harganya 45K tapi itu exclude pajak loh, ini chicken steak w/ mushrooms sauce sama baked potato
4. Holycow : ini aq pesen tenderloin w/ mushrooms sauce frenc fries and spinach, agak ga cocok di lidah sih karena bumbu dagingnya cuma gitu aja, ala ala western banget, sauce nya enaaak banget, ini sekitar 200gr daging seingetq, soal tempat konsepnya warehouse gitu aq kasih 9, rasa 8, harga 7, mahal ini mah sekitar 99K minumnya juga ga enak
makanya suka bangetttt makan steak, sejauh ini sih uda nyoba beberapa
check it out
1. Kafe Pelangi : beef steak nya ala ala Indonesia gitu jadi kek berasa lebih ke empal gitu sih, topingnya banyak juga, ada telor ceplok, sama sayuran macem-macem, enak+murah, soal tempat 8, rasa 9, harga 8 deh, 30K
2. WS : chicken steak kalo ga salah ini, pake brown sauce gitu deh, enak+murah, soal tempat 7, rasa 8, harga 9, sekitar 18K
3. Tavern : buat tempat aq kasih 10 lah soalnya kek bar gitu konsepnya, soal rasa 10, soal harga 9.5 deh, harganya 45K tapi itu exclude pajak loh, ini chicken steak w/ mushrooms sauce sama baked potato
Minggu, 07 Desember 2014
Anaerobiosis pada muskulus
ANAEROBIOSIS
PADA MUSKULUS
Kontraksi
otot secara garis besar terjadi melalui dua mekanisme, yaitu aerob dan anaerob.
Mekanisme anaerob pada kontraksi otot berlangsung pada dua menit pertama
sedangkan mekanisme aerob berlangsung setelah mekanisme anaerob. Seperti
jaringan hidup lainnya, otot juga memerlukan energi untuk berkontraksi. Kontraksi
otot membutuhkan ATP yang berlimpah. Ada 3 jalur yang dapat memasok ATP
tambahan selama kontraksi otot (Mader, 2001) :
- Mekanisme pembentukan ATP melalui respirasi aerobik
Mekanisme ini menggunakan sistem
transport elektron yang disebut fosforilasi oksidatif, proses ini terjadi
apabila tersedia oksigen yang cukup. Proses metabolisme aerobik selain
menghasilkan energi juga menghasilkan produk samping CO2 dan H2O.
Glikogen + ADP + Pi + O2 à CO2 + H2O + ATP
- Mekanisme pembentukan ATP melalui pemecahan kreatin fosfat
Sel-sel otot mengandung kreatin fosfat,
yang digunakan sebagai penyimpan pasokan fosfat berenergi tinggi. Kreatin
merupakan jenis asam amino yang tersimpan di dalam otot sebagai sumber energi.
Bentuk kreatin di dalam otot sudah terfosforilasi menjadi kreatin fosfat (PCr)
yang memiliki peran penting dalam proses metabolisme energi secara anaerobik
untuk menghasilkan energi. Saat istirahat, ATP di dalam mitokondria memindahkan
fosfatnya ke kreatin, sehingga terbentuk simpanan kreatin fosfat. Enzim kreatin
fosfokinase membantu pemecahan kreatin fosfat menjadi fosfat anorganik dan
kreatin. Fosfat anorganik yang dihasilkan dari proses pemecahan PCr ini melalui
proses fosforilasi dapat mengikat molekul ADP menjadi ATP dan memungkinkan
kontraksi berlanjut (Irawan, 2007; Ganong, 1995). PCr membawa ikatan fosfat
berenergi tinggi yang serupa dengan ATP, tetapi memiliki jumlah energi bebas
yang lebih tinggi dari ATP (jumlahnya tiga sampai delapan kali lebih banyak).
Ikatan energi tinggi kreatin fosfat mengandung kira-kira 8.500 kalori tiap mol
pada keadaan standar, dan sebanyak 13.000 kalori tiap mol pada keadaan di dalam
tubuh (38°C). Kombinasi energi dari ATP cadangan dan kreatin fosfat dalam otot
masih dapat menimbulkan kontraksi otot maksimal hanya untuk 5 sampai 8 detik
(Guyton dan Hall, 1997).
CP + ADP à
C + ATP
- Mekanisme pembentukan ATP melalui respirasi anaerobik
Ketika pasokan kreatin fosfat habis, sel
otot masih mampu memproduksi ATP secara anaerob yang terjadi dalam jalur
glikolisis. Glikolisis berarti memecah molekul glukosa menjadi dua molekul asam
piruvat. Proses ini memanfaatkan glukosa yang diperoleh dari glikogen otot atau
dari glukosa dalam aliran darah untuk menghasilkan ATP. Sistem glikolitik dapat
membentuk molekul ATP 2,5 kali lebih cepat dari mekanisme fosforilasi oksidatif
di mitokondria. Oleh karena itu, mekanisme glikolitik ini dapat digunakan
sebagai sumber energi yang cepat bila diperlukan banyak ATP untuk kontraksi dalam
waktu singkat. Sistem ini cepatnya
setengah kali lebih scepat dibanding sistem kreatin fosfat.
Glikogen/glukosa + ADP + Pi à ATP + asam laktat
Kelelahan Otot Rangka
Otot
rangka beradaptasi dengan anaerobiosis dengan peningkatan pengeluaran tenaga
melalui berbagai mekanisme anaerobik yang menghasilkan ATP. Selama anaerobiosis
yang parah, mekanisme ini terpakai dengan cepat dengan pembentukan asam laktat
meningkat. Massa otot yang merupakan salah satu produsen terbesar asam laktat
pada keadaan syok, dan selama defisiensi sirkulasi yang besar, otot dianggap
sebagai sumber utama simpanan tenaga dan akan terjadi katabolisme massa otot
akut. Amino berantai cabang dan keton dari otot digunakan untuk substrat bila
otot kekurangan glukosa. Kelelahan otot adalah kondisi yang diakibatkan oleh
kontraksi otot yang kuat dan lama. Kelelahan otot disebabkan oleh ketidak
mampuan proses kontraksi dan metabolik serat-serat otot untuk terus memberikan
hasil kerja yang sama dan dapat terjadi pada fase aerob maupun anaerob. Kontraksi
otot secara anaerobik akan menghasilkan produk akhir berupa asam laktat. Jadi,
aktifitas dengan intensitas submaksimal hingga intensitas maksimal akan
menyebabkan akumulasi asam laktat dalam otot dan darah. Respirasi anaerob hanya
dapat memasok ATP untuk waktu yang sangat singkat, karena mekanisme ini
menghasilkan asam laktat yang dapat menyebabkan kesakitan otot dan kelelahan.
Kamis, 24 Juli 2014
Biogas dari Feces Ayam
BIOGAS DARI
FESES AYAM
ABSTRAK
Produksi biogas dari feses ayam (total
solid 86,5%, kadar air 13,5%, volatil solid 64,3%, pH, 6,7) telah dilakukan. Feses
ayam kering yang digunakan adalah 2,8 kg ditambahkan pada digester anaerobik
yang mengandung 3,7 liter air hangat dan difermentasi pada 28°C. Produksi biogas
dimulai setelah 7 hari dan mencapai jumlah rata-rata 72,2 cm2/kg/hari setelah tiga
minggu. Dua kelompok bakteri yang diisolasi dari digester. Terdiri dari bakteri
pembentuk asam (Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococus aureus, dan Escherichia coli) dan pembentuk methan (Methanobacterium sp dan Methanococcus sp). Fungi yang diisolasi meliputi
: Mucor mucedo, Aspergillus niger, dan Penicillium
notatum. Temperatur 33,3°C optimum untuk produksi biogas (90cm3/kg/hari).
Resultan sludge digunakan untuk menstimulasi pertumbuhan jagung dan hasil
menunjukkan bahwa jagung yang ditanam di tanah yang tidak memiliki sludge
memiliki tinggi rata-rata 711 mm sementara yang tumbuh di lumpur memiliki
ketinggian rata-rata 1.564 mm setelah empat belas hari. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa feses ayam dapat digunakan untuk produksi biogas dan sebagai
biofertilizer.
PENDAHULUAN
Secara rata-rata, komposisi kotoran fisik
ayam termasuk feses, urin, dan sampah yang terutama terdiri dari nitrat.
Pencemaran nitrat tidak diinginkan karena potensinya dalam eutrofikasi,
methemoglobinemia, dan nitrosamine formasi (Ajuyah, 1996).
Proses metanogenesis meliputi
hidrolisis, asidogenesis/ asetogenesis, dan metanogenesis (Ainswort et al., 2001;
Odeyemi, 2001; Charles et al., 2003). Metana adalah utama komponen biogas (50-70%).
Komponen lainnya termasuk CO2 (30-40%) dan sedikit H2S
dan uap air (Odeyemi, 2001).
Kehadiran CO2 dan H2S
dalam biogas tidak diperlukan dan akan dibuang untuk kinerja optimal. CO2
ini dapat dihapus dengan melewatkan gas dalam kalsium hidroksida, kalium
hidroksida, barium hidroksida atau air sedangkan H2S dapat
dihilangkan dengan melewatkan gas dalam tembaga sulfat, sulfat besi, timbal
nitrat, besi klorida atau air (Lawal et al., 2001). Faktor yang mempengaruhi produksi
biogas meliputi C:N rasio, temperatur, waktu penyimpanan, pH, konsentrasi
lumpur, laju pengadukan/ pencampuran, dan nutrisi bakteri (starter) (Oyeleke et
al., 2003).
Salah satu masalah pembakaran
dihadapi dunia saat ini adalah pengelolaan semua sumber yang membahayakan kehidupan
manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan biogas dari feses ayam dan
memanfaatkan lumpur sisa sebagai biofertilizer.
BAHAN DAN METODE
Koleksi
Sampel : feses kering ayam yang diperoleh dari Niger State Livestock Feeds, Bosso,
Minna, Nigeria, dan dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi dari Federal University
of Technology, Minna dalam kantong plastik bersih.
Karakterisasi
Feses Ayam : parameter fisikokimia dari feses ayam ditentukan oleh pengujian untuk
total solid, kadar air, volatil solid, dan kadar abu menggunakan metode yang
dijelaskan oleh Jeffery et al., (1989).
Persiapan Bubur : 2,8 kg feses
ayam dimasukkan dalam 3,7 liter air hangat, dicampur dan diisi ke dalam digester
anaerobik dengan sesekali agitasi seperti yang dijelaskan oleh Bajah &
Garba (1992).
Penentuan pH
dan Temperatur : pH bubur ditentukan dengan menggunakan SUNTEX pH meter
(SP-701) sedangkan temperatur diukur dengan menggunakan termometer.
Persiapan
Media : media kultur yang digunakan disiapkan dengan metode laboratorium standar
yang dijelaskan oleh Cheesbrough (2003). Ini termasuk : kaldu nutrisi, nutrien
agar, centrimide agar, agar garam manitol dan sabouraud dextrose agar.
Isolasi dan
Karakterisasi Mikroorganisme : Bubur diencerkan bertingkat menggunakan
pengenceran tingkat sepuluh kali dan 0,1 ml dari 10-7 faktor
pengenceran tersebar ke plate nutrien agar untuk enumerasi dan isolasi bakteri
dan sabouraud dekstrosa agar untuk enumerasi dan isolasi jamur. Plate nutrien
agar diinkubasi secara aerob dan anaerob pada 37°C selama 24 jam. Pelat agar sabouraud
dekstrosa diinkubasi pada 28°C selama 3-5 hari. Isolat bakteri dikarakterisasi
menggunakan metode yang dijelaskan oleh Cowan (1974), sedangkan jamur dikarakterisasi
secara makroskopik dan mikroskopik (Domsch & Gams, 1970).
Proses
Digesti : Digunakan sebuah silinder tangki digester 60 liter. Bubur dimasukkan
dalam digester melalui inlet. Inlet tertutup untuk udara yang akan masuk pada
digester. Ujung pipa terhubung pada rangkaian labu bulat dibawah air untuk
menerima gas CO2 dan H2S dalam jangka waktu penyimpanan
sepuluh (10) hari. Air yang masuk dari pipa masuk dan diuji keasaman
menggunakan kertas lakmus.
Pengaruh
Sludge pada Pertumbuhan Jagung : Sedikit tanah liat diukur dan ditempatkan
dalam dua puluh wadah dan dibasahi dengan air. Lumpur dari digester dicampur
dengan tanah sepuluh wadah sedangkan sisanya sepuluh wadah dibiarkan tanpa
sludge (kontrol). Dua butir benih jagung dalam wadah. Semua pengamatan sehubungan
dengan perkecambahan dan pertumbuhan (tinggi) tercatat selama dua minggu.
HASIL
Sifat
fisikokimia feses ayam segar dan sludge feses ayam pada 18 hari digestion : Tabel 1 menunjukkan
sifat fisikokimia feses ayam segar dan sludge feses ayam pada hari ke -18 dari
pencernaan. Ada peningkatan persentase (%) Total Solids (dari 86,5 menjadi 23,6%),
kadar air (dari 13,5 menjadi 76,4%), kadar abu (dari 35,7 menjadi 44,8 %), dan
pH (dari 6,7 menjadi 6,9) antara feses ayam segar dan sludge feses ayam pada
hari ke-18 digestion tapi ada penurunan volatil solid (dari 64,3 menjadi 55,3%)
dan temperatur (°C) (dari 31,3 menjadi 30,0%).
Jumlah Bakteri
yang Terisolasi dalam Digester : Tabel 2 menunjukkan rata-rata
bakteri yang diisolasi dari digester. Bakteri dengan jumlah tertinggi adalah Methanococcus sp. (1,5x108
cfu/g) diikuti oleh Methanobacterium
sp. (1,2x106 cfu/g) sedangkan bakteri dengan jumlah minimal adalah Pseudomonas aeruginosa (1,0x102
cfu/g) diikuti oleh Bacillus subtilis (1,5x103
cfu/g).
Jumlah Jamur
yang Terisolasi dalam Bubur Sebelum Digestion : Jamur
dengan jumlah tertinggi pada bubur yang belum diisolasi adalah Mucor mucedo (1,7x103 cfu/g),
diikuti oleh A. niger (2,0x102)
dan Penicillium notatum (1,5x102
cfu/g).
Pengaruh Temperatur dan
pH pada Produksi
Biogas selama 18 hari:
Rerata produksi biogas
adalah 72,2 cm3/kg/hari,
berarti pH adalah
6,9 sedangkan temperatur rata-rata adalah 30,9°C.
Volume biogas tertinggi (90 cm3/kg/hari)
diproduksi hari ke-14 pada temperatur
33.3°C dan pH 7,0 diikuti oleh
85 cm3/kg/hari pada ketiga belas (13)
hari pada temperatur 33,0°C dan pH 7,0. Volume paling biogas paling sedikit (60 cm3/kg/hari) diproduksi pada tanggal 9 hari dengan
temperatur 28°C dan pH 7,2.
Efek rata-rata lumpur yang diperkaya tanah
terhadap pertumbuhan tanaman jagung
(mm): Tabel 3 menunjukkan efek tanah diperkaya sludge terhadap pertumbuhan tanaman jagung (mm). Pertumbuhan tertinggi jagung yang fortified dengan sludge pada periode pertumbuhan empat belas (14) hari adalah 3300 mm sedangkan pertumbuhan tertinggi tanaman jagung unfortified dengan lumpur dengan periode pertumbuhan empat belas (14) hari adalah 1400 mm. Rata-rata pertumbuhan jagung fortified dengan lumpur adalah 1564 mm, sementara rata-rata pertumbuhan tanaman jagung unfortified dengan lumpur adalah 711 mm.
(mm): Tabel 3 menunjukkan efek tanah diperkaya sludge terhadap pertumbuhan tanaman jagung (mm). Pertumbuhan tertinggi jagung yang fortified dengan sludge pada periode pertumbuhan empat belas (14) hari adalah 3300 mm sedangkan pertumbuhan tertinggi tanaman jagung unfortified dengan lumpur dengan periode pertumbuhan empat belas (14) hari adalah 1400 mm. Rata-rata pertumbuhan jagung fortified dengan lumpur adalah 1564 mm, sementara rata-rata pertumbuhan tanaman jagung unfortified dengan lumpur adalah 711 mm.
PEMBAHASAN
Hasil dari sifat fisikokimia feses
ayam selama 18 hari menunjukkan penurunan total solid (%) dan volatil solid (%)
86,50 menjadi 23,60 dan 64,32 menjadi 55,23. Hal ini mungkin karena penggunaan
limbah oleh mikroorganisme. Sesuai dengan pendapat dari Oyeleke et al. (2003),
yang menyatakan bahwa, total solid dan volatile solid berkurang dan produksi metana
meningkat. PH berkisar 6,8-7,4 sesuai dengan Hansen (2001) yang menyatakan
bahwa kisaran pH 6,8 dari netral menjadi 7,4 diperlukan untuk produksi biogas
optimum sedangkan temperatur bervariasi dari 28°C sampai 33,3°C. Produksi gas diamati
dengan peningkatan temperatur (Tabel 4), sesuai dengan Lawal et al. (2001)
bahwa produksi biogas lebih baik dengan peningkatan temperatur dan penurunan temperatur
mengakibatkan penurunan produksi biogas.
Periode penahanan dan penyimpanan
untuk produksi biogas adalah hari kedelapan dan sepuluh hari. Hal ini mungkin
disebabkan oleh akumulasi asam, kehabisan nutrisi atau produksi substansi auto
toksik oleh mikroba karena proses ini adalah batch culture system.
Dua kelompok bakteri telah diisolasi
dari digester (Tabel 2), merupakan bakteri pembentuk asam (B. subtilis, P. aeruginosa,
S. aureus, dan E. coli) dan pembentuk metana (Methanobacterium
sp. dan Methanococcus sp.). Pembentuk
asam mengkonversi senyawa kompleks dalam limbah ayam seperti karbohidrat, protein,
dan lemak menjadi asam lemak dengan berat molekul rendah, asetat, dan senyawa
organik sederhana. Kemudian diubah oleh bakteri yang memproduksi metana menjadi
biogas.
Feses ayam 2,8 kg menghasilkan total
1300 cm3 biogas dengan masa retensi 10 hari dengan rata-rata 72,2 cm3/kg/hari.
Jumlah rendah dari biogas yang dihasilkan oleh feses ayam mungkin karena rendahnya
C:N ratio 10:1. Lawal et al. (2001) menyatakan bahwa feses unggas mengandung
urea tinggi yang pada dekomposisi menghasilkan sebagian besar gas amonia.
Tanaman jagung yang diperkaya dengan
sludge (Tabel 3) memberikan pertumbuhan rata-rata 1564 mm sedangkan tanah
unfortified memberikan pertumbuhan rata-rata 711 mm. Hal ini mungkin disebabkan
oleh peningkatan nutrisi organik dalam tanah yang diperkaya sludge yang berfungsi
sebagai pupuk untuk jagung. Dengan demikian, meskipun feses ayam bukan merupakan
substrat yang terbaik untuk produksi biogas optimum, tetapi dapat berfungsi
sebagai biofertilizer yang sangat baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ainswort,
J. L., Atwood, D., Rideont, J. (2001). Anaerobic Digester System,
Midland Texas, United State Patent No: 6, 299,774 pp.11-18.
Ajuyah,
A. O. (1996). The potent of Integrated Biosystems in small pacific island
countries, School of Agriculture and Institute for Research
Extension and Training, University of the south pacific, Western Samoa, UNESCO
publication pp. 5-9.
Bajah, S. H.
& Garba, A. (1992). Chemistry. A new certificate approach.
Longman Publisher, Lagos Nigeria.
Charles, F.
Dennis, S. & James, R. F. (2003). Generating methane Gas from manure.
http//www.inform.unid.edu/edu.generating_methjane_gas_from manuire.htm :1-8.
Cheesbrough, M.
(2003). Preparation of reagent and culturE media. District
Laboratory practices in tropical countries. Cambridge University Press.
Edinburgh United Kingdom.
Cowan, S. T.
(1974). Manual for the identification of medical Bacteria second ed.
Cambridge University Press New York.
Domsch,
K. H. & Gams, W. (1970). Fungi in Agricultural Soils. Longman Group
Limited, London.
Hansen,
W. R. (2001). Methane generating farm livestock wastes. Publication of
Farm Management Colorado State University, Colorado.
Jeffery,
C.H., Bsset, J., Mendhan, J., Danney, D. (1989). Vogels textbook of
quantitative chemical analysis, Longman Group Publishers fifth ed.
Lawal, A. K.,
Ajuebor, F. N. & Ojosu, J. O. (2001).Characteristic of piggery wastes feeds
stock for determination of Design parameters to Biogas digester plant. Nigerian
Journal of Research and Review in Science 2:193-198.
Odeyemi, O.
(2001). Biogas production. Proceeding of the fifth Annual Conference of the
Nigerian Society of Microbioogy, Ado Ekiti, 2nd–6th Dec., 2001, pp. 17-24
Oyeleke, S. B.,
Onigbajo, H. O. & Ibrahim, K. (2003). Degradation of animal wastes (cattle
dung) to produce methane (cooking gas). Proceeding of the eighth annual
Conference of Animal Science Association of Nigeria (ASAN), pp. 168-169.
Selasa, 29 April 2014
APLIKASI Nannochloropsis sp. SEBAGAI AGEN BIOREMEDIASI TIMBAL (Pb) PADA PERAIRAN
APLIKASI
Nannochloropsis sp. SEBAGAI AGEN
BIOREMEDIASI TIMBAL (Pb) PADA PERAIRAN
PENCEMARAN
TIMBAL PADA PERAIRAN
Pencemaran logam berat
di lingkungan merupakan masalah serius karena kelarutan dan mobilitasnya
menimbulkan toksisitas dan ancaman bagi kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia.
Oleh karena itu, penemuan kembali logam-logam berat dari limbah industri
menjadi penting bagi masyarakat sebagai upaya daur ulang dan konservasi
logam-logam esensial (Hashim et al.,
2004). Remediasi logam melalui pendekatan teknik fisiko-kimia masih mahal dan
tidak ramah lingkungan, selanjutnya mulai diupayakan remediasi secara biologi
dengan mikroalga. Menurut Harris dan Ramelow (1990), kemampuan alga dalam
menyerap ion-ion logam sangat dibatasi oleh beberapa kelemahan seperti
ukurannya yang sangat kecil, berat jenisnya yang rendah dan mudah rusak karena
degradasi oleh mikroorganisme lain. Untuk mengatasi kelemahan tersebut,
berbagai upaya dilakukan diantaranya dengan mengimmobilisasi biomassanya
(Lewis, 1994).
Logam-logam dalam lingkungan perairan umumnya berada dalam bentuk ion, ada yang merupakan ion-ion bebas, pasangan ion organik, dan
ion-ion kompleks (Ahalya et al.,
2003). Dalam badan air, ion-ion logam juga bereaksi membentuk kompleks organik
dan kompleks anorganik. Ion-ion logam seperti Pb2+, Zn2+, Cd2+, dan Hg2+, mempunyai kemampuan untuk membentuk
senyawa kompleks sendiri. Ion
logam tersebut dengan mudah akan membentuk kompleks
dengan ion Cl- dan/atau SO42- pada konsentrasi
yang sama dengan konsentrasi dalam air laut (Palar, 2004).
Berbagai jenis kegiatan industri beserta produknya
telah dikembangkan dalam dua dekade terakhir. Hal ini berdampak pada terbentuknya limbah yang bervariasi sesuai dengan jenis industri
dan bahan baku yang digunakan. Logam Pb merupakan contoh
jenis bahan pencemar yang ditemukan di laut. Selain dapat menurunkan kualitas dan produktivitas
perairan laut juga dapat menimbulkan
keracunan, karena Pb termasuk logam berbahaya yang dapat terakumulasi pada
organisme dan jika dikonsumsi oleh manusia dapat menimbulkan penyakit (Siahainenia, 2001).
Akibat pencemaran logam berat, fungsi strategis perairan menjadi tidak
maksimal. Penurunan kualitas lingkungan laut akibat kontaminasi bahan-bahan pencemar akan
berdampak pada penurunan produktivitas dan higienitas komoditas perikanan yang
dihasilkan (Rahmansyah, 1997). Pb
merupakan logam berat yang terdapat secara alami di dalam kerak bumi dan
tersebar di alam dalam jumlah kecil melalui proses alami. Melalui
proses-proses geologi, Pb terkonsentrasi dalam deposit bijih logam dalam bentuk
galena, PbS; anglesit, PbSO4; dan Pb3O4
(Darmono, 1995).
N.
salina merupakan salah satu spesies mikroalga dengan waktu
regenerasi relatif cepat. Interaksinya dengan bahan pencemar di laut dapat
menyebabkan perubahan perilaku kehidupan, seperti perubahan populasi,
kecepatan pertumbuhan, aspek
biokimia, dan morfologi. Mikroalga Nannochloropsis sp. memiliki kemampuan sebagai bioremediator timbal
dengan konsentrasi berbeda, hal ini ditunjukkan dengan berkurangnya kandungan
logam berat dalam air dan meningkatnya kandungan logam berat dalam Nannochloropsis sp. (Wardhany, 2011).
Pada pencemaran akut di perairan, sebagian besar bahan pencemar dalam bentuk
larutan sehingga adsorpsi dan akumulasi langsung oleh biota akan menggambarkan
keadaan yang terjadi. Oleh karena itu, mikroalga dapat dijadikan bioindikator.
ADSORPSI
Adsorpsi secara umum adalah proses terakumulasinya zat-zat terlarut yang
terdapat dalam larutan antara dua permukaan, dapat
terjadi antara cairan dan
gas; cairan dan zat padat; atau cairan dan cairan lain.
Walaupun proses tersebut dapat terjadi pada seluruh permukaan benda,
namun yang sering terjadi adalah penggunaan bahan padat yang mengadsorpsi partikel yang berada dalam
air. Bahan yang akan diadsorpsi disebut
sebagai adsorbat atau terlarut sedangkan bahan pengadsorpsi dikenal sebagai adsorben (Sugiharto, 1987).
Proses adsorpsi dibedakan atas dua bagian yaitu: adsorpsi fisika (fisisorpsi)
dan adsorpsi kimia (kemisorpsi). Adsorpsi fisika atau adsorpsi Van der Waals merupakan suatu fenomena yang terjadi secara
reversibel sebagai akibat dari gaya tarik menarik antar molekul padatan dengan
substansi yang teradsorpsi. Sebagai contoh, apabila gaya tarik menarik antar
molekul suatu padatan dengan suatu gas lebih besar dibanding gaya tarik menarik
antar molekul-molekul itu sendiri, maka gas akan terkondensasi pada permukaan
padatan (Setiaji, 2000). Adsorpsi fisika terjadi hampir pada semua permukaan dan dipengaruhi
oleh suhu dan tekanan (Sartamtomo, 1998).
Adsorpsi kimia, dalam bentuk reaksi kimia membutuhkan energi aktivasi,
nilai panas adsorpsi kira-kira 10 sampai 100 kkal.mol-1. Adsorbat yang terikat oleh proses kemisorpsi umumnya sangat sulit diregenerasi (Sartamtomo, 1998).
Selain fisisorpsi dan kemisorpsi, dikenal pula istilah
biosorpsi. Biosorpsi dapat didefinisikan sebagai pemindahan senyawa, patikulat, spesies logam atau metaloid dari larutan oleh makhluk
hidup atau produk metabolitnya (Boddu and Smith, 2003).
KULTIVASI
Berbagai metode
kultivasi mikroalga telah dilakukan, kultivasi dalam ruangan umumnya dilakukan
dengan fotobioreaktor, yang memberi
kemudahan terutama dalam melakukan pengontrolan terhadap intensitas cahaya,
suhu, tingkat nutrisi, kontaminasi, dan mikroalga yang menjadi kompeti
tor. Sistem kultivasi
mikroalga yang dilakukan di luar ruangan, relatif lebih murah namun banyak
kelemahannya. Masalah yang dapat timbul antara lain pertumbuhan kultur
mikroalga yang spesifik sulit dijaga pada periode waktu yang lama, karena
sistem kultivasi yang rentan kontaminasi dan tidak steril (Sukenik, 1999).
Kultivasi di luar ruangan, misalnya pada kolam
terbuka dan tangki, lebih cepat terkontaminasi daripada mikroalga yang
dikultivasi pada wadah tertutup seperti tabung, labu, jerigen, dan kantung
plastik. Untuk memperoleh kultur yang spesifik, kultivasi dilakukan dengan
menggunakan kultur mikroalga yang bebas dari mikroorganisme asing seperti
bakteri. Akan tetapi metode kultivasi ini cukup sulit dan relatif mahal, karena
membutuhkan sterilisasi yang tepat untuk peralatan gelas, media kultur, dan wadah
yang digunakan (Hoff and Snell, 2008). Setelah dilakukan kultivasi dalam laboratorium
kemudian diinokulasikan pada perairan yang tercemar logam berat. Selanjutnya
diambil sampel analisis kandungan logam yang terjerap oleh Nannochloropsis sp.
INTERAKSI LOGAM BERAT DENGAN
MIKROALGA
Biosorpsi terjadi ketika ion logam
berat mengikat dinding sel dengan dua cara yang berbeda, pertama pertukaran ion
di mana ion monovalent dan divalent seperti Na, Mg, dan Ca pada dinding sel
digantikan oleh ion-ion logam berat, dan kedua adalah pembentukan kompleks
antara ion-ion logam berat dengan gugus-gugus fungsi seperti karbonil, amino,
hidroksi, fosfat, dan karboksil, yang terdapat pada dinding sel. Adsorpsi logam
oleh sel mikroalga berlangsung sangat cepat, terjadi hingga suatu tingkatan
yang tinggi dan berlangsung selektif (Harris and Ramelow, 1990). Logam akan
terakumulasi pada tumbuhan setelah membentuk kompleks dengan unsur atau senyawa
lain, salah satunya fitokhelatin yang tersusun dari beberapa asam amino seperti
sistein dan glisin. Fitokhelatin berfungsi sebagai pembentuk kompleks dengan
logam berat dalam tumbuhan sekaligus berfungsi sebagai bahan detoksifikasi
tumbuhan terhadap logam berat. Jika tumbuhan tidak mampu mensintesis
fitokhelatin, pertumbuhan akan terhambat dan dapat berujung pada kematian.
Kadar tertinggi fitokhelatin ditemukan pada tumbuhan yang toleran terhadap
logam berat.
Fitokhelatin
disintesis dari suatu turunan tripeptida (glutation) yang tersusun dari glutamat, sistein, dan glisin. Glutation terdapat hampir
pada seluruh sel. Jika dalam lingkungannya termediasi oleh ion-ion logam, maka glutation akan membentuk fitokhelatin
sebagai peptida pengkhelat
logam, yang akan mengikat ion logam membentuk fitokhelatin-M yang
selanjutnya akan diteruskan ke vakuola. Selain dengan Cd, fitokhelatin juga dapat berikatan dengan Pb, Ag, Hg, Cu, Zn, As, Ni, dan Co (Mehra
et al., 1996; Ahner et al.,
1994).
DAFTAR
PUSTAKA
Ahalya, A., Ramachandra,
T. V., and Kanamadi, R. D. 2003. Biosorption of Heavy Metals. Res. J. Chem. Environ. 7(4): 71-79
Boddu, V. M., and Smith E. D. 2003. A Composit Chitosan
Biosorbent for Adsorption of Heavy Metals from Wastewater. Precented at the 23rd Army Science
Conference. Orlando, FL.
Darmono, 1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup.
UI-Press. Jakarta.
Harris, P. O., dan
Ramelow, G. J. 1990. Binding of Metal
Ions by Particulate Biomass Derived from Chlorella vulgaris and Scenedesmus
quadricanda. Env. Sci. Tech.
24: 220-228.
Hashim, M. A and Chu K. H.
2004. Biosorption of Cadmium by Brown, Green, and Red Seaweeds. Chem. Eng.
J. 97: 249-255
Hoff, F. H and Snell T. W.
2008. Plankton Culture Manual, 6th Ed. 3rd Prn., Florida
Aqua Farms, Inc., Florida, 11, 17, 24-29.
Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat.
PT Rineka Cipta. Jakarta.
Rahmansyah. 1997. Akumulasi
Logam Berat (Pb) dalam Tubuh Udang Windu (Penaeus monodon) pada Kondisi
Salinitas dan Individu yang Berbeda. Laporan
Hasil Penelitian Perikanan Pantai. Balai Perikanan Pantai. Maros.
Sartamtomo. I. F. 1998. Desain dan Rekayasa Prototype Alat Pengolahan
Lanjut Air Limbah Industri dengan Teknologi Absorpsi Karbon Aktif. Balai Penelitian dan Pengembangan Industri.
Semarang.
Setiaji. B. 2000.
Pengolahan Industri Tahu Menggunakan Zeolit Aktif Pada Prototipe Instalasi
Pengolahan Air Limbah. Jurnal Kimia Lingkungan. 2 (1).
Siahanenia, L. 2001. Pencemaran
Laut, Dampak dan Penanggulangannya. Program Pascasarjana IPB. Bogor http://www.hayati-ipb.com/users/rudyct/indiv2001/lauras.htm, online akses 09/10/04.
Sugiharto. 1987. Dasar-Dasar Pengolahan Air Limbah.
Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Sukenik, A. 1999. Production
of Eicosapentaenoic Acid by The Marine Eustigmatophyte Nannochloropsis, in Chemicals from Microalgae. Cohen, Z., ed., pp.- 41-56. Taylor &
Francis, London.
Wardhany, S. Y. 2011. Analisa Kemampuan Mikroalga Nannochloropsis
sp. sebagai Bioremediator Timbal (Pb) dengan Konsentrasi Berbeda.Skripsi. Brawijaya Repository.
Selasa, 18 Februari 2014
Review make up : Tendercare by Oriflame
Krim dengan formula khusus untuk mengurangi kekeringan dan mengembalikan kehalusan dan kelembutan kulit. 15 ml. Harganya murah 39rb tapi ga murahan kalo diskon bisa buy 1 get 1 free loh......
Bisa buat lutut, tumit, muka, siku, dan bibir. Kalo dipake sebelum pake lipstik bisa bikin bibir lembut dan lipstik ga gumpal. Cuma agak ssedikit ga nyaman kalau dipake, lengket gitu. Rasa yang original juga ngga menarik, tapi tenang aja ada rasa coconut, caramel, vanilla, cherry, almond, etc.
Nb : jangan dipake kalau baunya udah berubah
Penting : karena ni make up dicocol cocol pake tangan, hati-hati ya jangan sampe kontam, kalo bisa sekali pake sekali cocol aja (jangan bekas buat ngolesin tumit buat nyocol lagi, ntar bakteri di tumit pada masuk noh #serem)
Langganan:
Postingan (Atom)










